Cahaya merupakan faktor lingkungan vital yang mempengaruhi sistem kehidupan pada jenjang populasi. Tanpa komponen radiasi matahari ini, begitu banyak jumlah organisme yang sudah dikenal itu tidak mungkin ada. Fungsi cahaya merupakan faktor ekologik yang bervariasi intensitasnya, panjang gelombangnya serta deviasi penyinarannya. Kadang-kadang cahaya dipandang sebagai komponen iklim utama, terutama bila iklim dikaitkan dengan jumlah jam penyinaran sinar surya dalam kurun waktu tertentu (Wirakusumah,2003).
Intensitas cahaya paling penting dalam vegetasi, yang telah dipilih merupakan situasi dimana tanaman itu hidup yang responnya terhadap selang batas nilai cahaya tertentu. Manakala intensitasnya turun sehingga tidak mencukupi untuk keperluan metabolisme, sedangkan nilai cahaya telah melampaui (compensation point). Tingkat ini hanya didekati pada permukaan tanah di bawah tajuk yang tebal, dimana telah banyak terjadi intersepsi cahaya oleh lapisan terjal lebih atas. Intensitas cahaya juga dapat jatuh di bawah titik kompensasi pada hari-hari berawan, saat fajar da magrib dan di bawa permukaan iar dalam (Wirakusumah,2003).
Intensitas cahaya dapat diukur da dinyatakan dalam dua cara; dengan ukuran iluminasi atau energi sel-sel fotoelektrik suatu alat pengukur cahaya mengukur iluminasi itu. Dalam studi ekologi sekarang ini, pernyataan kuantitatif ini diganti dengan satuan kalori/cm² yang dikenal sebagai Langlei. Radiasi sinar matahari yang menyentuh permukaan planet bumi ini intensitasnya 2 gcal/ cm². Absorpsi oleh atmosper,awan dan uap udara mengurangi intensitas cahaya itu menjadi 1,3 gcal/ cm². Dari intensitas cahaya itu, 45% merupakan cahaya lembayung (visible sunlight) dengan jumlah yang sama radiasi inframerah dan 10% sinar ultra violet.
Karena cahaya sebagai energi memasuki sistem kehidupan walaupun secara terbatas sebetulnya ada sistem-sistem otogenik alamiah, intensitasnya meruoakan keoerluan utama dalam penentuan kadar energi yang diperlukan bagi suatu sistem yang dapat beroperasi. Intensitas cahaya juga mengendalikan aktivitas lokomotor pada banyak hewan-hewan kecil walaupun pada tumbuhan juga sangat terbatas. Radiasi yang diintersepsikan bumi dari sumber matahari yang meruoakan hal penting bagi sistem kehidupan di atas planet bumi ini berkisar diantara panjang gelimbang 400-760 milimikron yang dikenal sebagai sinar surya. Gelombang ini menyuplai energi untuk fotosintesis, sehingga menjadi penggerak segala ekosistem ototropik dan secara tidak langsung juga bagi ekosistem heterotropik (Wirakusumah,2003).
Energi matahari yang ditangkap oleh proses fotosintesis merupakan lebih dari 90% sumber energi yang dipakai oleh manusia untuk oemanasan, cahaya dan tenaga. Ganbar 2.1 akan menunjukkan sebaran pemakaian energi matahari oleh bumi dan atmosfer.
Ganbar di bawah ini menunjukkan sebaran pemakaian energi matahari oleh bumi dan atmosfer :
30% dipantulkan kembali secara langsung ke ruangan angkasa

Cahaya merupakan faktor lingkungan vital yang mempengaruhi sistem kehidupan pada jenjang populasi. Tanpa komponen radiasi matahari ini, begitu banyak jumlah organisme yang sudah dikenal itu tidak mungkin ada. Fungsi cahaya merupakan faktor ekologik yang bervariasi intensitasnya, panjang gelombangnya serta deviasi penyinarannya. Kadang-kadang cahaya dipandang sebagai komponen iklim utama, terutama bila iklim dikaitkan dengan jumlah jam penyinaran sinar surya dalam kurun waktu tertentu (Wirakusumah,2003).
Intensitas cahaya paling penting dalam vegetasi, yang telah dipilih merupakan situasi dimana tanaman itu hidup yang responnya terhadap selang batas nilai cahaya tertentu. Manakala intensitasnya turun sehingga tidak mencukupi untuk keperluan metabolisme, sedangkan nilai cahaya telah melampaui (compensation point). Tingkat ini hanya didekati pada permukaan tanah di bawah tajuk yang tebal, dimana telah banyak terjadi intersepsi cahaya oleh lapisan terjal lebih atas. Intensitas cahaya juga dapat jatuh di bawah titik kompensasi pada hari-hari berawan, saat fajar da magrib dan di bawa permukaan iar dalam (Wirakusumah,2003).
Intensitas cahaya dapat diukur da dinyatakan dalam dua cara; dengan ukuran iluminasi atau energi sel-sel fotoelektrik suatu alat pengukur cahaya mengukur iluminasi itu. Dalam studi ekologi sekarang ini, pernyataan kuantitatif ini diganti dengan satuan kalori/cm² yang dikenal sebagai Langlei. Radiasi sinar matahari yang menyentuh permukaan planet bumi ini intensitasnya 2 gcal/ cm². Absorpsi oleh atmosper,awan dan uap udara mengurangi intensitas cahaya itu menjadi 1,3 gcal/ cm². Dari intensitas cahaya itu, 45% merupakan cahaya lembayung (visible sunlight) dengan jumlah yang sama radiasi inframerah dan 10% sinar ultra violet.
Karena cahaya sebagai energi memasuki sistem kehidupan walaupun secara terbatas sebetulnya ada sistem-sistem otogenik alamiah, intensitasnya meruoakan keoerluan utama dalam penentuan kadar energi yang diperlukan bagi suatu sistem yang dapat beroperasi. Intensitas cahaya juga mengendalikan aktivitas lokomotor pada banyak hewan-hewan kecil walaupun pada tumbuhan juga sangat terbatas. Radiasi yang diintersepsikan bumi dari sumber matahari yang meruoakan hal penting bagi sistem kehidupan di atas planet bumi ini berkisar diantara panjang gelimbang 400-760 milimikron yang dikenal sebagai sinar surya. Gelombang ini menyuplai energi untuk fotosintesis, sehingga menjadi penggerak segala ekosistem ototropik dan secara tidak langsung juga bagi ekosistem heterotropik (Wirakusumah,2003).
Energi matahari yang ditangkap oleh proses fotosintesis merupakan lebih dari 90% sumber energi yang dipakai oleh manusia untuk oemanasan, cahaya dan tenaga. Ganbar 2.1 akan menunjukkan sebaran pemakaian energi matahari oleh bumi dan atmosfer.
Ganbar di bawah ini menunjukkan sebaran pemakaian energi matahari oleh bumi dan atmosfer :







Kurang dari 1% ditangkap oleh krorofil
Yang terdapat dalam tumbuhan hijau daun dan beberapa jasad untuk fotosintesis,dimana energi diubah menjadi energi kimia (Wirakusumah,2003).
23% diserap oleh bumi dan atmosfer dipakai untuk penguapan, pengendapan, angin dan sebagainya. Energi disimpan dalam bentuk air dan es.
Kurang dari 1% ditangkap oleh krorofil
Yang terdapat dalam tumbuhan hijau daun dan beberapa jasad untuk fotosintesis,dimana energi diubah menjadi energi kimia (Wirakusumah,2003).